Terdapat persamaan dan perbedaan dalam kasus dugaan perselingkuhan antara Romo Gusti dengan Ibu Helmince alias Mama Sindi masih menjadi buah bibir.
![]() |
Romo Gusti dan Mama Sindi. |
SIANAKAREN.COM -- Dugaan kasus perselingkuhan antara Romo Agustinus Iwanti, Pr dengan Ibu Helmince alias Mama Sindi masih menjadi buah bibir.
Peristiwa perselingkuhan Romo Gusti dan Mama Sindi tertangkap basah oleh Valentinus alias Bapa Sindi di rumahnya sendiri di Kampung Rende, Lembur, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur pada Rabu, 24 April 2024.
Baca juga: Wajib Tahu, 9 Fakta Dugaan Kasus 'Kedekatan' Romo Gusti dan Mama Sindi
Bapa Sindi telah melaporkan kasus perselingkuhan istrinya dengan Romo Gusti dan mempercayakan penyelesaian kasus itu kepada Keuskupan Ruteng.
Adapun otoritas Keuskupang Ruteng telah mengambil sikap tegas dengan memberhentikan Romo Gusti dari jabatannya sebagai Pastor Paroki Kisol. Namun Bapa Sindi berharap tidak berhenti di situ.
Romo Gusti, menurut dia harus diberhentikan dari kehidupan imamatnya. Jika tidak, maka dia akan menempuh jalur hukum.
Baca juga: Klarifikasi Romo Gusti: Main Kartu Sampai Larut Malam lalu Diajak Nginap
Di tengah perbicangan yang luas mengenai kasus tersebut, belum lama Romo Gusti dan Bapa Sindi membuat klarifikasi mengenai peristiwa yang terjadi di rumahnya pada malam dini hari ketika memergoki istrinya berduaan dengan romo di kamar.
Dari klarifikasi tersebut, terdapat persamaan dan perbedaan versi. Berikut beberapa poin persamaan dan perbedaan kesaksian keduanya.
A. Persamaan
1. Memiliki Kedekatan
Baik Romo Gusti maupun Bapa Sindi mengakui bahwa mereka memiliki kedekatan sejak tahun 2022 dan telah menganggap keluarga satu sama lain.
2. Bertamu ke Rumah
Bapa Sindi dan Romo sama-sama membeberkan fakta bahwa pada tanggal 23 April ada kunjungan ke rumah untuk makan malam Bersama.
3. Makan lalu Main Kartu Sampai Larut
Romo Gusti dan Bapa Sindi sama-sama bersaksi bahwa setelah tiba di rumah pada malam hari, mereka makan malam bersama lalu dilanjutkan dengan main kartu sampai larut malam
4. Keluarga Bapa Sindi Minta Nginap
Karena hari sudah larut malam, keluarga Bapa Sindi meminta Romo menginap di rumah mereka.
Romo tidur di kamar yang telah disediakan keluarga Bapa Sindi.
Namun, agak sedikit berbeda bahwa menurut pengakuan Bapa Sindi romo tidur di kamar keluarga. Sedangkan menurut versi Romo Gusti, dia tidur di kamar yang telah disediakan.
5. Kembali ke Pastoran Setelah Keributan
Seperti pengakuan Romo Gusti, Bapa Sindi pun mengaku bahwa Romo dan anak-anak pastoran kembali ke pastoran pasca keributan di rumahnya.
Bapa Sindi meminta Romo dan rombongan pulang agar tidak memicu keributan lebih lanjut.
Namun menurut romo, dia berinisiatif untuk pulang karena terjadi keributan yang tidak diketahui penyebabnya.
B. Perbedaan
1. Undangan Makan Malam
Romo Gusti bercerita bahwa pada hari Selasa, 23 April 2024 tepatnya pukul 17.30 WITA, dia dan Bapa Sindi saling berkomunikasi lewat WA seperti biasanya.
Kemudian pada pukul 17.53 WITA Romo Gusti dan Bapak Sindi sepakat untuk makan bersama di rumahnya seperti biasanya.
Sekitar pukul 20.00 WITA, Romo Gusti bersama dengan anggota pastoran (Melin, Save, Kristo, dan Itin menggunakan mobil pribadi (Terios) berangkat menuju rumah Bapa Sindi.
Namun menurut kesaksian Bapa Sindi, pada hari Selasa sekitar pukul 18:04 WITA, Romo Gusti mengirim pesan via WA kepada istrinya untuk menyiapkan makan malam bersama di rumahnya. Bukti percakapan keduanya terekam dalam HP Mama Sindi.
Sekitar pukul 20:00, Romo Gusti bersama 2 orang sopir (Save dan Kristo), satu orang tukang masak paroki (Melin) dan anak Kitin tiba di rumahna Lembu.
Setelah sampai di rumah, pihak keluarga menyuguhkan minuman kopi dan energen. Selanjutnya mereka makan malam bersama.
2. Pamit Pulang
Karena sudah larut malam, sekitar pulul 01.00 WITA, Romo Gusti meminta Mama Sindi membangunkan anggota pastoran yang sementara tidur agar siap-siap kembali ke Pastoran. Sedangkan Itin bertahan di rumah.
Akan tetapi Mama Sindi mengatakan bahwa mereka sudah tidur lelap.
Lalu Romo Gusti sendiri mangatakan "biar saya dan adik Kristo pulang duluan", tetapi Bapak Tinus dan Ibu Hermin menahan mereka semua untuk nginap karena sudah larut malam.
Kemudian Bapak Tinus menuntun Romo Gusti ke kamar tidur yang ternyata sudah mereka siapakan.
Sedangkan Kristo dan Bapak Tinus tidur di tempat tidur yang letaknya di depan kamar tidur untuknya. Ibu Hermin tidur bersama anak-anak perempuannya dan Melin.
Namun menurut kesaksian Bapa Sindi, sebenarnya tawaran untuk menginap dari istrinya itu merupakan ungkapan budaya sebagai bentuk penghormatan terhadap Romo apalagi mengingat hari sudah larut malam.
Romo Gusti pun menyetujui dan berbaring di tempat tidur samping meja makan dan mengajak Kristo untuk tidur bersama, tetapi Kristo (sopir) menolak karena katanya romo kalau tidur sering mendengkur.
Pada saat itu Bapa Sindi dan Kristo berencana untuk tidur di sofa depan ruang tamu.
Tidak berselang lama, Mama Sindi memangil saya untuk meminta romo pindah tidur di dalam kamar.
Bapa Sindi sempat tidak menyetujui saran dari istri saya tetapi menurut istrinya tidak baik seandainya romo tidur di samping meja makan.
Dengan berat hati dia menyetujui saran dari istrinya, kemudian meminta romo untuk tidur di dalam kamar dan romo pun menyetujuinya.
Selanjutnya Bapa Sindi dan Kristo pindah di tempat tidur di samping meja makan yang semulanya ditempati romo. Sedangkan Mama Sindi, Siren (anak bungsu), Melin dan Kitin tidur di kamar tengah. Santo (anak ke 2) dan Save tidur di kamar depan. Setiap kamar tidur masing masing memiliki pintu lengkap dengan kain gorden.
3. Kejadian Pukul 02.00 WITA
Perbedaan yang menjadi pokok klarifikasi Romo Gusti dan Bapa Sindi adalah peristiwa yang terjadi pada pukul 02.00 WITA dini hari.
Romo Gusti mengisahkan bahwa murang lebih pukul 02.00 WITA, dia terbangun karena dikagetkan dengan teriakan makian dari Bapak Tinus yang mengancam mengambil parang.
Romo sangat shok dan bingung dengan keadaan sekejap itu. Dan saat itu dia melihat Mama Sindi juga ada di dalam kamar dengan kondisi berbusana lengkap, dan tiba tiba dia lari ke luar.
Dan masih dalam keadaan shok, dia berusaha menenangkan Bapa Sindi.
Saat itu Romo Gusti masih dalam keadaan berpakaian lengkap, ditambah kain selimut dan bangun mendekati Bapa Sindi.
Karena teriakan keras Bapak Sindi berupa makian-makian dan ancaman untuk membunuh, sehingga mengakibatkan semua orang dalam rumah ikut bangun dan ikut panik.
Supaya tidak terjadi keributan lebih lanjut, Romo dan semua anggota pastoran segera meninggalkan rumah dan balik ke pastoran.
Hal ini berbeda dengan kesaksian Bapa Sindi dalam klarifikasinya.
Menurut dia, sekitar pukul 02:00 WITA dia melihat istrinya keluar dari kamar menuju tempatnya dan Kristo tidur, pada saat itu dia belum tidur.
Dia pun mulai curiga mengapa istrinya belum tidur. Dia melihat istrinya kembali ke dalam, tetapi bukan ke kamar tidurnya melainkan menuju ke kamar yang ditempati Romo Gusti.
Tidak berselang lama karena merasa janggal dia ikut masuk ke kamar yang ditempati romo, pintu kamar dalam keadaan tidak terkunci.
Di dalam, dia mendapati istrinya dan romo tidur berdua dalam satu selimut.
Melihat mama Sindi tidur dalam satu selimut dengan romo, dia syok lalu memegang kaki istrinya sambil menarik selimut dan melihat mereka sedang berpelukan.
Melihat itu dia emosi dan marah lalu menampar mereka berdua.
Bapa Sindi pun menangis sambil berteriak mengancam Mama Sindi. Kemudian dia ke dapur untuk mengambil parang.
Setelah kembali, istrinya sudah lari ke luar rumah sedangkan romo tetap di situ untuk menenangkannya.
Mendengar teriakannya, semua orang di dalam rumah terbangun dari tidur.
Santo anak ke dua saya berlari ke luar rumah mengejar Mama Sindi sedangkan Melin, Save dan Kristo langsung berlari ke luar rumah, Siren dan Kitin tetap berada didalam rumah.
Melihat dia memegang parang, Romo Gusti mandorong dan menindih badanya di tempat tidur sambil mengamankan parang di tangan agar tidak mengejar Mama Sindi.
Bapa Sindi sangat terpukul, lalu menangis sambil memaki Romo Gusti karena merasa dikhianati.
Beberapa menit kemudian Santo kembali tetapi tidak bersama Mama Sindi, dengan penuh emosi Santo membanting pintu dan menariknya dari tindihan Romo Gusti. Kejadian ini disaksikan anak Siren dan Kitin.
Kemudian Romo Gusti berlutut memohon ampun dan menangis sambil berkata: "bapa Indi ampong, saya yang salah, kamu pukul saja saya". Hal ini disampaikan kurang lebih 4 kali kepada Bapa Sindi.
Romo juga memohon ampun dan memeluk Santo sambil menangis dan berkata: "somba somba, saya minta maaf, tolong jangan kasitau ke siapa-siapa, kalau kamu angkat masalah ini, hancur saya".
Di saat itu Bapa Sindi hanya menangis dan menyuruh romo pulang, sambil berkata: "lebih baik romo pulang sebelum saya teriak memanggil keluarga di sekitar rumah saya".
Sekitar pukul 03:00, sebelum romo bersama karyawan pulang, sekali lagi dia bersujud dan berkata kepada Bapa Sindi: "bapa Indi, saya minta maaf. Saya sudah terlanjur dengan mama indi, kasus ini tolong diam-diam saja sebab kalau ite bongkar, saya hancur".
Kejadian ini disaksikan oleh Santo, Siren, Kitin dan salah satu tetangga yang sempat hadir karena terbangun mendengar keributan di rumah.
Setelah itu romo dan rombongannya pulang kembali ke paroki Kisol.
4. Keberadaan Mama Sindi
Romo Gusti menceritakan bahwa Mama Sindi berada di seputaran Kota Borong Ketika dia kabur dari pastoran.
Sedangkan menurut kisah Bapa Sindi, dia tidak mengetahui keberadaan istrinya pasca kejadian di rumahnya.*
COMMENTS